Suka Duka Dokter di Pandemi

Sebagai garda terdepan kesehatan dokter dan tenaga kesehatan sampai saat ini masih berjuang keras. Mari kita apresiasi dahulu perjuangan dan dedikasi mereka. Perjuangan mereka sangatlah berat dan menantang karena taruhannya nyawa.



Banyak cara untuk mengabdi bagi kemanusian di tengah pandemi ini. Salah satunya seperti yang dilakukan dr. Ardiansyah. Panasnya baju dan perlengkapan APD yang membekap tubuhnya dan puasa yang harus dijalani saat bertugas, tidak membuatnya mundur dari pengabdian di garis depan penanganan COVID-19. Karena ini adalah bagian dari resiko pekerjaan yang harus dijalani.

Suka duka pun diceritakan dr. Ardiansyah dan dr. Udeng.

1. Dapat Kesempatan Membantu Orang Banyak

"Masa pandemi ini adalah saatnya kita mendulang pahala yang banyak, begitu banyak sudah kawan kita yang gugur diperjuangan ini. Jangan sampai kita menyerah, karena kalau kita nyerah siapa lagi yang berjuang" begitu kata dr. Ardiansyah.

Perjuangan berat ini adalah kesempatan untuk dapat menolong orang lain dan memberikan pelayanan sesuai sumpah profesi. Rasa kompak dan saling membantu menjadi keharuan tersendiri di tengah kecemasan dan ketidakpastian ini.

Pengalaman pertama bekerja di tengah pandemi Covid-19 juga menjadi “rewarding experience” yang tak terlupakan bagi seorang perawat dan juga para dokter.

2. Dapat Memotivasi Mahasiswa Kedokteran Agar Cepat Lulus

Keadaan ini menuntut mahasiswa calon dokter dan perawat agar cepat lulus. Hal ini didukung juga dengan pihak kampus yang sedikit mempermudah jalan mereka agar cepat lulus dan cepat turun ke lapangan membantu vaksin dan membantu perawatan pasien Covid.

3. Terus Menerus Dibawah Rasa Khawatir

Bertugas diiringi rasa takut terpapar, apalagi melihat kawan kawan yang sudah gugur terlebih dahulu, ini membuat mental dokter sedikit menurun. Tapi bagaimanapun sumpah profesi harus dijunjung tinggi dan bekerja dengan penuh dedikasi.

Berperang dengan virus yang begitu cepat berpindah dan menginfeksi banyak orang pasti membuat ragu. Semangat dan tekad akan jalan yang sudah diambil adalah kunci untuk tetap bisa berperang melawan covid

4. Jauh Dari Keluarga

" Jauh dari keluarga adalah tantangan terberat. Apalagi saat hari libur " utas dr. Udeng Tentu keterbatasan waktu untuk berkumpul bersama keluarga menjadi duka yang dirasakan oleh para petugas. Belum lagi, masih banyak pasien yang tidak jujur dan kooperatif saat berobat, seolah tidak peduli dengan risiko yang bisa saja terjadi.

Harus karantina di hotel sendiri setelah bertugas itu adalah duka yang mendalam tidak bisa jumpa dengan keluarga.


5. Jadi Sadar Akan Kebersihan Diri

Setelah bertugas kita jadi lebih aware kepada kebersihan diri kita. Meskipun sudah pakai APD, harus rajin mandi dan cuci tangan apalagi setelah selesai bertugas. Adaptasi kebiasaan ini baik sekali, semoga menjadi kebiasaan di masa mendatang.

Himbauan juga untuk masyarakat agar tidak lengah protokol kesehatan, meskipun kasus sudah menurun, kemungkinan ada varian baru masih bisa terjadi. Yang terpenting jaga diri kita. Diskusi ini ditayangkan di youtube Berita KBR yang bisa kalian saksikan juga disini 





Comments